Pada Setiap Tren, Apakah Akan Selalu Ada Anti Tren?

Kalimat ini masih nempel di kepala, kayaknya harus menuliskan sesuatu tentang kalimat ini.

Setiap ada Tren, selalu ada gerakan Anti Tren.

Sumber: Pexels

Kalimat itu sebenernya nggak tiba-tiba muncul di kepala, tapi karena saya membaca tulisan Suaminya Rachel Amanda, nama pena-nya "botakasu". Punten, saya bingung pakai istilahnya, makanya saya pakai nama pena aja, kalo saya pakai istilah nama panggung agak aneh ya, masa nulisnya di panggung. Hadeuh.

Saya masih inget baca tulisan beliau di hari jumat, sambil makan Kupat Tahu Mangunreja, tapi saya ganti kupatnya jadi nasi (ini info penting). Saya baca itu dari hape, karena saya sengaja install Substack di hape.

Kalo nggak salah beliau itu sedang menulis tentang AI, menulis tentang muak dengan AI yang kemudian mengarah ke kalimat di atas.

Pas saya baca bagian itu, seketika inget waktu Pee Wee Gaskins, sebuah band pop punk yang muncul di sekitar tahun 2008 - 2009, zaman saya masih SMA, muncul ke permukaan dan banyak orang yang tau band tersebut, terlebih mulai masuk ke TV Nasional.

Kemunculan Pee Wee Gaskins memunculkan gerakan APWG, Anti Pee Wee Gaskins yang dulu sama-sama dikenal banyak orang. Saya nggak akan bahas tentang itu, tapi itu cuma jadi alasan untuk memvalidasi aja.

Di tulisan yang sama, beliau (kembali ke botakasu) memberikan contoh gerakan anti-anti yang muncul ketika ada tren baru, salah satunya adalah komunitas perpusatakaan atau komunitas membaca diantara era AI yang lagi sering bikin gumoh karena dimana-mana bahasannya tentang AI.

Selain mengingatkan saya tentang gerakan Anti Tren, kalimat di atas tadi juga memberikan saya kesimpulan bahwa se-tren apapun, se-viral apapun, se-menjadi pusat tata surya apapun, akan selalu ada yang anti-anti, akan selalu ada yang bilang "apaan sih", dan itu normal.

Di dunia musik pun, setau saya masih dan makin bertambah orang yang mengoleksi item-item musik seperti rilisan kaset, CD dan yang pastinya piringan hitam. Di era yang serba digital ini, dimana bisa play dan pilih ribuan lagu hanya dari satu alat aja, masih ada dan masih bertambah orang yang memilih untuk membeli atau bahkan mengoleksi rilisan fisik.

Saya melihatnya sebagai rekreasi, dimana kita sudah lumayan jenuh dengan rilisan digital, dan ingin rekreasi dengan rilisan fisik yang ada sensasi tersendiri.

Selain musik, fotografi juga sama, kamera analog masih banyak banget yang pakai dan masih ada komunitasnya, bahkan beberapa juga ada yang pakai Camera Pocket atau bahkan Handycam untuk mendapatkan hasil yang natural dari perangkat tersebut, bukan hasil teknologi terkini dan melaui proses editing.

Begitu pula kemunculan "Dumbphones" sebagai Digital Detox yang sempet ramai karena Smartphones dianggap terlalu banyak menawarkan distraksi.

Wah seru juga ya nulis lagi, bisa kemana-mana ini pembahasannya. Tutup aja kali ya.

Intinya, menurut saya – mau ngikutin tren, mau nggak atau mau jadi anti tren sekalipun, bebas. Asal jangan merasa jadi yang paling benar aja, apalagi sampai mengomentari, menghina atau bahkan mengolok-olok dengan kata kasar. Bahaya. Terlalu jahat. Kayak kasusnya komentar Nakes di postingan Threads itu.

Udah ah, hatur nuhun udah baca sampai sini.

Tidak ada komentar

Terima kasih sudah membaca tulisannya. Silakan beri komentar yang sopan dan tidak mengandung SARA. Jangan lupa mampir lagi ke sini. Hatur nuhun